
Dalam bisnis online, tidak semua pengunjung yang memasukkan produk ke keranjang akan melanjutkan pembelian. Sebagian calon pembeli berhenti sebelum menyelesaikan pembayaran. Kondisi seperti ini dikenal dengan istilah abandoned cart.
Abandoned cart menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan oleh pemilik toko online. Jika banyak calon pembeli meninggalkan keranjang, bisnis dapat kehilangan peluang penjualan meskipun calon pembeli sebenarnya sudah menunjukkan ketertarikan terhadap produk.
Apa Itu Abandoned Cart?
Abandoned cart adalah kondisi ketika calon pembeli sudah memasukkan produk ke dalam keranjang belanja, tetapi tidak menyelesaikan proses pembelian.
Calon pembeli mungkin sudah memilih produk, menentukan jumlah barang, bahkan masuk ke halaman checkout. Namun, mereka kemudian meninggalkan website atau aplikasi tanpa menyelesaikan pembayaran.
Contohnya, seseorang mengunjungi toko online dan menemukan sepatu yang sesuai dengan kebutuhannya. Ia memasukkan sepatu tersebut ke keranjang, tetapi kemudian menutup halaman tanpa melakukan pembayaran.
Tindakan tersebut menghasilkan abandoned cart karena produk sudah masuk ke keranjang, tetapi transaksi belum selesai.
Perbedaan Abandoned Cart dan Abandoned Checkout
Abandoned cart dan abandoned checkout memiliki arti yang hampir sama, tetapi keduanya dapat menunjukkan tahap yang berbeda dalam proses pembelian.
Abandoned cart terjadi ketika calon pembeli memasukkan produk ke keranjang tetapi tidak melanjutkan pembelian.
Sementara itu, abandoned checkout biasanya mengacu pada kondisi ketika calon pembeli sudah masuk ke proses checkout tetapi meninggalkan transaksi sebelum pembayaran selesai.
Keduanya menunjukkan adanya calon pembeli yang sudah memiliki niat membeli, tetapi belum menyelesaikan transaksi.
Mengapa Abandoned Cart Terjadi?
Ada berbagai alasan yang membuat calon pembeli meninggalkan keranjang belanja.
Biaya Tambahan Terlalu Tinggi
Calon pembeli mungkin tertarik dengan harga produk, tetapi kemudian menemukan biaya tambahan seperti ongkos kirim, biaya layanan, atau biaya lainnya.
Jika total pembayaran jauh lebih tinggi dari perkiraan awal, calon pembeli dapat membatalkan pembelian.
Proses Checkout Terlalu Rumit
Proses checkout yang panjang juga dapat membuat calon pembeli kehilangan minat.
Jika toko online meminta terlalu banyak informasi atau mengharuskan pembeli melewati banyak halaman, mereka mungkin memilih meninggalkan transaksi.
Metode Pembayaran Terbatas
Calon pembeli memiliki preferensi pembayaran yang berbeda-beda. Jika toko online tidak menyediakan metode pembayaran yang mereka gunakan, mereka dapat membatalkan pembelian.
Bisnis dapat menyediakan beberapa pilihan pembayaran yang relevan agar calon pembeli lebih mudah menyelesaikan transaksi.
Calon Pembeli Masih Membandingkan Produk
Tidak semua orang yang memasukkan produk ke keranjang langsung ingin membeli.
Sebagian calon pembeli masih membandingkan harga, kualitas, fitur, atau penawaran dari toko lain sebelum mengambil keputusan.
Belum Siap Membeli
Calon pembeli mungkin hanya ingin menyimpan produk untuk dipertimbangkan kemudian.
Mereka bisa saja masih menunggu waktu yang tepat, menunggu gajian, atau perlu berdiskusi dengan orang lain sebelum membeli.
Website atau Proses Pembayaran Bermasalah
Gangguan teknis juga dapat menyebabkan abandoned cart.
Halaman yang lambat, tombol pembayaran yang tidak berfungsi, atau error ketika checkout dapat membuat calon pembeli meninggalkan transaksi.
Cara Mengurangi Abandoned Cart
Bisnis dapat melakukan beberapa langkah untuk mengurangi jumlah keranjang yang ditinggalkan.
Sederhanakan Proses Checkout
Buat proses checkout sesingkat dan semudah mungkin.
Hindari meminta informasi yang tidak diperlukan. Semakin mudah calon pembeli menyelesaikan pembayaran, semakin kecil kemungkinan mereka berhenti di tengah proses.
Tampilkan Biaya dengan Jelas
Berikan informasi mengenai harga, ongkos kirim, biaya layanan, dan biaya lainnya sejak awal jika memungkinkan.
Transparansi membantu calon pembeli mengetahui jumlah yang harus mereka bayarkan sebelum masuk ke tahap akhir transaksi.
Sediakan Berbagai Metode Pembayaran
Berikan pilihan pembayaran yang sesuai dengan kebiasaan target pelanggan.
Toko online dapat menyediakan transfer bank, virtual account, dompet digital, kartu, atau metode pembayaran lain yang relevan dengan target pasar.
Tingkatkan Kecepatan Website
Website yang lambat dapat mengganggu pengalaman calon pembeli.
Pastikan halaman produk dan checkout dapat dibuka dengan cepat, terutama pada perangkat mobile karena banyak pelanggan mengakses toko online melalui smartphone.
Bangun Kepercayaan
Calon pembeli perlu merasa yakin sebelum mengeluarkan uang.
Tampilkan informasi produk dengan jelas, kebijakan pengembalian, informasi kontak, ulasan pelanggan, serta jaminan atau keamanan transaksi jika memang tersedia.
Gunakan Reminder
Bisnis dapat mengingatkan calon pembeli yang meninggalkan keranjang.
Misalnya, toko online dapat mengirim email atau pesan pengingat dengan informasi produk yang masih berada di keranjang. Pengingat tersebut dapat membantu calon pembeli kembali menyelesaikan transaksi.
Berikan Penawaran yang Relevan
Dalam kondisi tertentu, bisnis dapat memberikan insentif seperti voucher atau potongan ongkos kirim.
Namun, bisnis tidak harus selalu memberikan diskon. Jika terlalu sering memberikan potongan harga, pelanggan dapat terbiasa menunggu promo sebelum membeli.
Contoh Abandoned Cart dalam Bisnis Online
Misalnya, sebuah toko online menjual ebook bisnis dengan harga Rp20.000.
Seorang pengunjung memilih ebook tersebut dan memasukkannya ke keranjang. Ia kemudian membuka aplikasi lain dan lupa kembali ke halaman pembayaran.
Karena transaksi belum selesai, toko mencatat aktivitas tersebut sebagai abandoned cart.
Pemilik toko kemudian dapat mengirimkan pengingat melalui email atau pesan otomatis. Pesan tersebut dapat mengingatkan calon pembeli bahwa ebook masih tersedia di keranjang dan menyediakan tombol untuk melanjutkan pembelian.
Cara Mengatasi Abandoned Cart dengan Email Marketing
Email marketing dapat membantu bisnis menghubungi kembali calon pembeli yang meninggalkan keranjang.
Bisnis dapat membuat abandoned cart email yang terkirim secara otomatis setelah seseorang meninggalkan proses pembelian.
Email pertama dapat berisi pengingat sederhana mengenai produk yang masih berada di keranjang. Jika calon pembeli belum melakukan pembelian, bisnis dapat mengirimkan email lanjutan dengan informasi tambahan atau penawaran yang relevan.
Pesan sebaiknya tetap membantu dan tidak terlalu agresif. Tujuannya adalah mengingatkan calon pembeli, bukan membuat mereka merasa dipaksa untuk membeli.
Metrik untuk Mengukur Abandoned Cart
Bisnis dapat menggunakan beberapa metrik untuk mengetahui seberapa besar masalah abandoned cart.
Salah satunya adalah abandonment rate, yaitu persentase pengguna yang meninggalkan proses pembelian sebelum menyelesaikannya.
Bisnis juga dapat melihat jumlah keranjang yang ditinggalkan, jumlah transaksi yang berhasil dipulihkan, serta nilai penjualan yang diperoleh kembali melalui strategi cart recovery.
Data tersebut membantu bisnis mengetahui apakah perubahan pada proses checkout dan strategi pengingat berhasil meningkatkan jumlah transaksi.
Mengapa Bisnis Perlu Memperhatikan Abandoned Cart?
Abandoned cart menunjukkan bahwa sebagian calon pembeli sebenarnya sudah memiliki ketertarikan terhadap produk.
Karena itu, bisnis tidak selalu harus mencari calon pembeli baru. Bisnis juga dapat berusaha mengubah calon pembeli yang sudah pernah menunjukkan minat menjadi pelanggan.
Strategi ini dapat membantu bisnis memanfaatkan kembali peluang penjualan yang sebelumnya hampir hilang.
Kesimpulan
Abandoned cart adalah kondisi ketika calon pembeli sudah memasukkan produk ke keranjang tetapi tidak menyelesaikan proses pembelian. Kondisi ini dapat terjadi karena berbagai alasan, mulai dari biaya tambahan, proses checkout yang rumit, metode pembayaran terbatas, hingga calon pembeli yang belum siap membeli.
Bisnis dapat mengurangi abandoned cart dengan menyederhanakan checkout, memberikan informasi biaya secara jelas, menyediakan metode pembayaran yang sesuai, meningkatkan kecepatan website, dan membangun kepercayaan.
Bisnis juga dapat menggunakan email marketing atau pesan pengingat untuk mengajak calon pembeli kembali menyelesaikan transaksi. Dengan strategi yang tepat, bisnis dapat mengubah sebagian keranjang yang ditinggalkan menjadi penjualan.
