
Sales funnel tidak harus rumit atau menggunakan banyak tools. Bisnis online yang baru mulai pun dapat membuat sales funnel sederhana untuk mengubah pengunjung menjadi subscriber, kemudian menjadi calon pelanggan dan pembeli.
Banyak pemula mengira sales funnel hanya diperlukan oleh bisnis besar. Padahal, konsep funnel sebenarnya dapat diterapkan pada bisnis dengan produk sederhana sekalipun.
Funnel membantu bisnis mengatur perjalanan calon pelanggan. Pengunjung tidak langsung dipaksa membeli, tetapi diarahkan melalui beberapa tahap sampai mereka semakin mengenal bisnis dan siap mengambil keputusan.
Dengan alur yang sederhana, Anda sudah dapat mulai membangun sistem pemasaran yang lebih terarah.
Mulai dengan Menentukan Produk
Sebelum membuat funnel, tentukan terlebih dahulu produk yang ingin ditawarkan.
Produk dapat berupa ebook, kursus online, template, software, jasa, membership, atau produk digital lainnya.
Jangan membuat funnel tanpa mengetahui tujuan akhirnya. Produk yang jelas akan membantu menentukan konten, lead magnet, dan penawaran yang digunakan.
Tentukan Siapa Target Pelanggan
Funnel akan lebih efektif jika dibuat untuk audiens tertentu.
Tentukan siapa yang paling membutuhkan produk Anda. Pahami masalah, kebutuhan, dan tujuan mereka.
Misalnya Anda menjual ebook tentang bisnis online untuk pemula. Maka konten dan funnel sebaiknya dibuat untuk orang yang sedang belajar memulai bisnis online, bukan untuk semua orang.
Buat Konten untuk Menarik Pengunjung
Tahap pertama funnel adalah mendapatkan perhatian.
Anda dapat menggunakan artikel SEO, YouTube, media sosial, email referral, atau sumber traffic lainnya.
Konten sebaiknya membahas masalah yang memang sedang dicari oleh target audiens.
Misalnya target audiens ingin mengetahui cara mendapatkan penghasilan online. Anda dapat membuat artikel seperti “Cara Memulai Bisnis Online dari Nol”.
Konten tersebut menjadi pintu masuk menuju funnel.
Berikan Lead Magnet
Tidak semua pengunjung siap membeli produk.
Karena itu, berikan sesuatu yang bermanfaat sebagai alasan untuk melanjutkan hubungan.
Inilah fungsi lead magnet.
Lead magnet dapat berupa ebook gratis, checklist, template, video tutorial, webinar, atau materi digital lainnya.
Contohnya:
Artikel → Ebook Gratis → Email List
Pengunjung yang tertarik akan memberikan alamat email untuk mendapatkan materi tersebut.
Buat Landing Page Sederhana
Landing page digunakan untuk menjelaskan lead magnet dan mengarahkan pengunjung melakukan tindakan.
Jelaskan secara singkat apa yang akan mereka dapatkan dan mengapa materi tersebut bermanfaat.
Formulir pendaftaran dan tombol CTA sebaiknya mudah ditemukan.
Tidak perlu membuat landing page terlalu rumit. Yang penting, pengunjung memahami manfaat lead magnet dan tahu apa yang harus dilakukan.
Hubungkan Formulir dengan Email Marketing
Setelah pengunjung mengisi formulir, data mereka perlu masuk ke sistem email marketing.
Dari sinilah hubungan dengan calon pelanggan dapat dilanjutkan.
Subscriber dapat menerima email otomatis yang berisi link lead magnet. Setelah itu, mereka dapat menerima email edukasi secara bertahap.
Dengan cara ini, proses tidak harus dilakukan secara manual.
Kirim Welcome Email
Email pertama sebaiknya menyambut subscriber.
Ucapkan terima kasih karena mereka telah bergabung. Kemudian berikan link menuju materi yang mereka minta.
Anda juga dapat menjelaskan secara singkat apa yang akan mereka dapatkan dari email berikutnya.
Welcome email membantu menciptakan pengalaman pertama yang baik.
Berikan Konten Edukasi
Jangan langsung mengirim promosi setelah seseorang menjadi subscriber.
Berikan konten yang membantu mereka memahami masalah dan menemukan solusinya.
Misalnya Anda menjual ebook tentang content marketing. Email berikutnya dapat membahas kesalahan dalam membuat konten.
Email selanjutnya dapat memberikan strategi sederhana untuk membuat konten yang lebih menarik.
Dengan begitu, subscriber mulai melihat bisnis Anda sebagai sumber informasi yang bermanfaat.
Bangun Kepercayaan
Kepercayaan merupakan bagian penting dari sales funnel.
Calon pelanggan perlu mengetahui bahwa bisnis Anda memahami masalah mereka dan memiliki solusi yang masuk akal.
Anda dapat membangun kepercayaan melalui artikel, tutorial, studi kasus, pengalaman pelanggan, testimoni, dan konten edukasi.
Semakin banyak nilai yang diberikan, semakin kuat hubungan dengan calon pelanggan.
Perkenalkan Produk
Setelah beberapa kali memberikan edukasi, Anda dapat mulai memperkenalkan produk.
Jelaskan masalah yang dapat dibantu oleh produk tersebut. Kemudian jelaskan manfaat, isi, cara kerja, dan alasan mengapa produk tersebut relevan.
Jangan hanya mengatakan bahwa produk Anda bagus.
Tunjukkan bagaimana produk tersebut dapat membantu calon pelanggan.
Gunakan CTA yang Jelas
Setiap penawaran membutuhkan Call to Action atau CTA.
CTA memberi tahu calon pelanggan apa yang harus dilakukan selanjutnya.
Contohnya:
Lihat Detail Ebook
Pelajari Produknya
Dapatkan Sekarang
Gunakan CTA yang sesuai dengan tahap calon pelanggan. Jangan membuat mereka bingung dengan terlalu banyak pilihan.
Buat Follow-Up
Tidak semua orang membeli setelah mendapatkan penawaran pertama.
Sebagian mungkin masih mempertimbangkan. Sebagian lainnya mungkin belum sempat membaca informasi produk.
Karena itu, buat email follow-up.
Follow-up dapat memberikan informasi tambahan, menjawab keraguan, menunjukkan manfaat produk, atau mengingatkan kembali penawaran.
Contoh Sales Funnel Sederhana
Untuk pemula, funnel dapat dibuat dengan alur berikut:
Artikel SEO
↓
Lead Magnet
↓
Email List
↓
Welcome Email
↓
Email Edukasi
↓
Penawaran Produk
↓
Pembelian
Alur tersebut sudah cukup untuk membangun sales funnel dasar.
Tidak perlu langsung menggunakan puluhan halaman atau automation yang kompleks.
Contoh Funnel untuk Ebook
Misalnya Anda menjual ebook bisnis online.
Pengunjung menemukan artikel melalui Google. Di akhir artikel terdapat tawaran ebook gratis.
Pengunjung mengisi email dan mendapatkan ebook tersebut secara otomatis.
Beberapa hari kemudian, mereka mendapatkan email edukasi. Setelah beberapa email, Anda menawarkan ebook premium yang lebih mendalam.
Alurnya menjadi:
Google → Artikel → Ebook Gratis → Email → Ebook Premium
Sederhana, tetapi sudah merupakan sebuah sales funnel.
Contoh Funnel untuk Produk Afiliasi
Sales funnel juga dapat digunakan untuk affiliate marketing.
Misalnya Anda menemukan produk digital yang relevan dengan pembaca.
Jangan selalu mengarahkan traffic langsung ke link affiliate.
Anda dapat membuat artikel yang membahas masalah tertentu. Kemudian tawarkan lead magnet dan bangun hubungan melalui email.
Setelah itu, rekomendasikan produk affiliate yang memang relevan dengan kebutuhan subscriber.
Alurnya dapat menjadi:
Artikel → Lead Magnet → Email → Edukasi → Rekomendasi Produk Affiliate
Pendekatan ini dapat membantu membangun kepercayaan sebelum memberikan rekomendasi.
Gunakan Content Marketing sebagai Pintu Masuk
Content marketing dapat menjadi sumber traffic yang sangat baik untuk funnel.
Artikel yang dibuat berdasarkan kata kunci tertentu dapat mendatangkan pengunjung dari Google dalam jangka panjang.
Di dalam artikel, Anda dapat menghubungkan pembaca dengan lead magnet yang relevan.
Dengan demikian, artikel tidak hanya mengejar traffic. Artikel juga menjadi bagian dari sistem untuk membangun database calon pelanggan.
Jangan Terlalu Banyak Menjual
Salah satu kesalahan pemula adalah menganggap sales funnel berarti harus terus menjual.
Padahal, funnel yang baik memberikan nilai pada setiap tahap.
Jika setiap email hanya berisi promosi, subscriber dapat kehilangan minat.
Gunakan kombinasi konten edukasi, informasi, cerita, rekomendasi, dan penawaran.
Ukur Setiap Tahap
Sales funnel perlu dievaluasi.
Perhatikan berapa banyak orang yang datang ke artikel. Kemudian lihat berapa banyak yang mengisi formulir.
Setelah itu, perhatikan berapa banyak subscriber yang membuka email, mengklik link, dan melakukan pembelian.
Jika traffic tinggi tetapi subscriber sedikit, periksa lead magnet dan CTA.
Jika subscriber banyak tetapi penjualan rendah, periksa konten, penawaran, produk, dan proses pembelian.
Perbaiki Funnel Secara Bertahap
Jangan berharap funnel langsung sempurna.
Funnel biasanya membutuhkan beberapa kali pengujian.
Anda dapat mengganti judul lead magnet, memperbaiki landing page, menguji subject email, atau mengubah CTA.
Perubahan kecil pada satu bagian dapat memberikan dampak terhadap keseluruhan funnel.
Gunakan Tools Secukupnya
Pemula tidak membutuhkan terlalu banyak tools.
Sistem sederhana dapat menggunakan:
Website → Landing Page → Email Marketing → Produk
Jika diperlukan, Anda dapat menambahkan tools analytics, automation, pembayaran, atau CRM.
Yang paling penting bukan jumlah tools, tetapi bagaimana semuanya bekerja bersama.
Kesimpulan
Cara membuat sales funnel sederhana untuk pemula sebenarnya tidak sulit.
Mulailah dengan menentukan produk dan target pelanggan. Kemudian buat konten untuk menarik pengunjung, tawarkan lead magnet, kumpulkan email, berikan edukasi, dan lanjutkan dengan penawaran yang relevan.
Alurnya dapat dibuat sederhana:
Traffic → Lead Magnet → Subscriber → Edukasi → Penawaran → Pelanggan
Setelah funnel berjalan, ukur hasil setiap tahap. Perbaiki bagian yang masih lemah dan kembangkan sistem secara bertahap.
Tidak perlu menunggu bisnis menjadi besar untuk membuat sales funnel.
Justru semakin awal bisnis memiliki funnel, semakin mudah membangun sistem pemasaran yang dapat berkembang bersama bisnis.
